DERMA CINTA

Hari demi hari Ni Sumi masih seperti itu, setiap harinya ia habiskan dengan duduk pada kursi tua di beranda rumahnya. Wanita tua yang  hampir seluruh rambutnya sudah memutih ini tak hentinya menatap pintu pagar rumahnya. Sorotnya lelah menahan pilu. Wajah keriput itu nampak lebih gelap. Kini ke dua matanya bak lahar yang siap tuk menyembur, dan byurr.. menjadi bulir bulir yang deras mengalir.
Ni Sumi tinggal di sebuah rumah tua yang sudah tak layak huni, lantainya yang retak sering kali membuat telapak kaki Ni Sumi terluka, belum lagi jika hujan Ni sumi pasti kerepotan menyimpan ember dan panci disana sini untuk menahan genangan air dari atapnya yang bocor.  
Dari sudut sana terlihat bocah yang sedang membuat adonan donat, ia aduk semuanya jadi satu; terigu, telur, gula dan bahan lainnya, ia nampak sangat lihai. Sesekali ia alihkan pandangannya pada Ni Sumi yang sedang melamun. Sebenarnya sudah tak aneh bagi Cecep, bocah berusia 12 tahun itu melihat tingkah wanita tua itu. namun bukan itu yang ada dalam benaknya, ada kekhawatiran Ni Sumi pergi lagi dari rumah, atau lebih tepatnya kabur dari rumah. Tepat seminggu yang lalu, dini hari sekali, Ni Sumi sudah tak ada di kamarnya. Rumah mereka takan cukup untuk menyembunyikan sosoknya, satu arah mata saja sudah tampak seisi rumah.  
Ni Sumi pergi untuk mencari anak yang tak tau diri itu, begitulah sebutan warga kampung untuk Bambang anak Ni Sumi itu,  padahal dari kecil Ni Sumi sangat memanjakan anak semata wayangnya itu. Untunglah Pak Dadang yang hendak ke pasar melihat Ni Sumi yang akan naik elf Cikijing-Bandung. Berita terakhir tentang Bambang anaknya itu memang bekerja di Bandung, tapi itu sudah dua tahun yang lalu.
Sepuluh tahun yang lalu Bambang pamit pada ibunya untuk mengadu nasib di kota, berharap kehidupannya akan lebih baik, Ni Sumi dari awal tidak setuju dengan rencana anaknya itu, namun Bambang terus memaksa, ia berjanji akan selalu mengabari ibunya, dan pada akhirnya Ni Sumi tak bisa berbuat apa-apa terhadap keinginan Bambang itu.

Bulan pertama Bambang rajin mengirim kabar kepada Ni Sumi, melewati Pak Asep salah satu warga yang memiliki alat komunikasi, Ni Sumi sangat bahagia, walaupun sebenarnya ia lebih bahagia jika anaknya selalu disisinya.
Bulan kedua Bambang menjadi jarang memberi kabar, alasannya ia sangat sibuk mengurusi pekerjaannya. Hingga bulan ketiga ia jadi tak pernah mengabari Ni Sumi lagi, bahkan saat hari lebaran pun ia tak pernah pulang. Ni Sumi jadi sering sakit-sakitan dibuatnya.
Kerinduan Ni Sumi terhadap Bambang makin membuncah, puncaknya adalah 2 tahun yang lalu, Ni Sumi mengamuk tak jelas, meriung-riung bak orang yang sedang disiksa, semua orang mengkerubuni Ni Sumi, melihat Ni Sumi penuh dengan iba. Semenjak kepergian anaknya, tak pernah ada lagi lengkungan senyum di bibir Ni Sumi, rasanya ia sudah lupa bagaimana cara tersenyum.
“Ni.. emam heula nya” “ Nek, makan dulu ya” ucap Cecep pada Ni Sumi, namun seperti biasanya, Ni Sumi hanya berkomunikasi menggunakan isyarat saja, mengangguk-anggukan kepalanya tanda setuju dan menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju, tak ada ekspresi lebih dari itu. Lidahnya kaku, bibirnya kelu selama 10 tahun.
Mereka tinggal berdua di rumah ini, sebenarnya Cecep bukan siapa-siapa, tak ada ikatan darah sama sekali diantara mereka. Cecep hanyalah anak yatim piatu dan tak punya keluarga selain ke dua orang tuanya. Ibunya meninggal lebih dulu saat melahirkan Cecep dan kemudian bapaknya meninggal karena kecelakaan lalu lintas.
Saat Bapaknya meninggal tak ada satu warga pun yang bersedia mengurus Cecep, memang tak aneh jika mereka menolak untuk mengurus Cecep karena kebanyakan dari mereka sudah beranak lebih dari tiga dengan keadaan ekonomi yang serba kekurangan.
Warga kampung mengusulkan agar Cecep dititipkan ke panti asuhan saja, Cecep yang baru berumur tujuh tahun itu tak berkutit, toh ia hanya anak kecil yang tak tau apa-apa, menangispun ia malu, semua orang yang berkumpul di hadapannya hanyalah orang asing baginya. Di sudut rumahnya ia menahan sesak, dadanya perih, seperti di hantam pisau berkali-kali, bibirnya gemetar, tubuhnya lungsai. Ia hanya butuh pelukan saat ini, bukan.. bukan celoteh-celoteh yang katanya peduli akannya, nyatanya tidak, mereka hanya tidak ingin terbebani dengan membawa Cecep ke rumah mereka.
Dari arah pintu masuk datang seorang janda tua, ia lewati kumpulan orang yang mengaku peduli akan Cecep, ia hampiri bocah malang itu. Ni sumi menggendong Cecep yang sedang duduk menunduk di sudut rumahnya, orang-orang keheranan melihat tingkahnya, wanita tua  itu membawa Cecep pergi. Warga pun tak bisa mencegah apa yang dilakukan Ni Sumi hari itu, nyatanya tak ada yang berani mengurus anak yatim piatu itu kecuali janda tua itu.
 “Ni aaaaa ni” “Nek aaaaaa nek”
Tingkah Cecep menyuapi wanita tua itu, bak seorang ibu yang sedang menyuapi anaknya.
“Ni, engke mun tabungan Cecep tos seuer, Cecep meser acuk kanggo Nini, nu sae pisan” “Nek, nati kalau tabungan Cecep udah banyak Cecep beli baju buat Nenek, yang bagus banget”
Ni Sumi menggelengkan kepala tanda ia tak setuju dengan usul Cecep kali ini
“Kunaon Ni? Kan supaya Nini teh tambah geulis  pisan.” “Kenapa nek? Kan supaya Nenek tambah cantik”  terlihat lengkungan senyum di bibir Cecep hingga jelas lesung pipinya.   
Ni sumi menggelengkan kepalanya lebih cepat, tanda ia sangat tidak setuju.
Terus Nini hoyong naon atuh? kan cecep teh hoyong Nini bungah” “Terus Nenek pengen apa dong? Cecep pengen Nenek bahagia”
Jika ia mau bicara, tak ada yang lebih bahagia bagi Ni Sumi selain bertemu anak semata wayangnya yang selama 10 tahun tak pulang.
Ni Sumi beranjak dari kursinya, memasuki kamar kecilnya. Matahari sudah sembunyi dari tadi, seisi bumi menjadi gelap, namun karenanya dunia terlihat lebih indah, kita dapat melihat kilauan bintang, dan bersyukur dengan adanya sinaran bulan.
Ni Sumi membaringkan tubuhnya, ke dua matanya menatap langit-langit kamarnya. Menakjubkan, ini lebih indah.. benda langit itu nampak lebih dekat. Sinarnya tepat dimatanya, tapi semakin lama semuanya terlihat remang-remang, perih, berat, dan gelap.  Kini ia berharap menemukan dunia adalah indah.
Batuk Ni Sumi makin menjadi, Cecep tak tega melihat Ni sumi, batuknya tak henti-henti, nampak wanita itu sudah sangat kelelahan. Cecep segera mencari obat batuk di rumahnya, ternyata sudah habis.
Cecep kebingunan, Ni Sumi sudah sangat kelelahan. Ia raba saku celananya, ia keluarkan, didapatinya uang recehan Rp. 5.200, Cecep lupa uang hasil jualannya tadi sudah ia belikan bahan adonan untuk membuat donat besok.
Cecep membawa celengan yang ia sembunyikan di bawah ranjangnya. Untung saja ia membenarkan kata Ni Sumi agar tak beli baju. Karena kebutuhan tak cukup di situ saja. Begitupun Cecep, ia mempunyai prinsip hidup tak mau tergantung pada orang lain. Cecep segera memecahkan celengan ayam yang sudah terisi penuh itu, jelas berat terisi oleh uang recehan. Sudah satu tahun Cecep menabung, uangnya sudah lumayan banyak.
Dengan tergesa Cecep mengantongi seluruh uang recehnya dan segera pergi ke apotek setelah menerima izin dari Ni Sumi.
Sudah pukul 23.40 Cecep tak kunjung pulang padahal ia sudah berangkat dari tiga jam yang lalu, Ni Sumi sangat khawatir dengan Cecep, apalagi ini sudah sangat malam, jalanan sangat sepi, bagaimana jika terjadi sesuatu padanya, begitulah kecemasan di hati Ni Sumi.
. “Buruken aya nu katabrak budak lalaki” “Cepetan ada yang ke tabrak anak lelaki” Teriakan seorang bapak membangunkan warga yang masih terlelap. Sekelompok warga berlarian menuju arah jalan.
“Di tabrak ku trek badag” “Di tabrak sama truk besar”
Obrolan seorang ibu yang datang dari arah jalan.
Udara malam kian menggigil. Malam yang hening itu berubah seketika, terdengar suara-suara istigfar di setiap sudut.
Tidak.. tidak.. !! Ni Sumi mulai menghapus semua yang berotasi pada pikirannya, dirinya mulai tak tenang, dadanya sesak.
Seketika wajahnya terlintas dalam bayang Ni Sumi. Senyum bocah polos itu, lesung pipinya. Lututnya yang lemah seketika terjatuh pada lantai. Dari kejauhan seorang bapak berbadan besar memboyong anak yang bermandikan darah menuju arahnya, jeritan istigfar itu semakin keras, bapak itu semakin mendekat,  baju yang dikenakan bocah itu sudah tak asing bagi Ni Sumi. 
“ceceeeeep...” teriak Ni sumi
“ Ni.. Nini.. Kunaon Ni..” “Nek.. Nenek.. Kenapa Nek” Suara Cecep di sebelahnya, matanya masih remang-remang, Cecep berada tepat di dekatnya, Ni Sumi melihat seluruh tubuh Cecep, tak ada satu bagian tubuhnya yang hilang, bahkan tak ada goresan luka sedikitpun pada kulitnya.
“ Nini kunaon..?” ”Nenek kenapa..?”
Hening
Ni Sumi masih pada kasurnya.  
“Nini teh nyaah pisan ka Cecep, Cecep tong ninggalken Nini nyaa..” “ Nenek sayang banget sama Cecep, Cecep jangan ninggalin Nenek yaa..”
Insya Allah ni, Cecep oge nyaah pisan ka nini.. “ “Insya Allah Nek, Cecep juga sayang banget sama Nenek”
“Cep.. Cecep teh hadiah terindah nu gusti Allah pasih ka Nini, walau Cecep sanes darah daging Nini, tapi Cecep lahir ti hate Nini” “ Cep.. Cecep itu hadiah terindah yang Allah kasih untuk Nenek, walaupun Cecep bukan darah daging Nenek, tapi Cecep lahir dari hati Nenek”
Bibir yang kaku itu, kini tersenyum. Dua titik gelembung dari sudut matanya itu keluar lagi, namun dengan rasa yang berbeda, bahagia. Milyaran kata yang sempat terpendam itu, kini telah terdengar. Harapannya saat ini hanya satu, di akhir hidupnya ia bisa memberikan derma cinta untuk Cecep.

Derma : sesuatu yang mulia yang dilakukan dengan tulus ikhlas dan tanpa pamrih

Bandung 7 September 2012
*Dibukukan dalam buku antologi "Kelindan Cinta" 

Pendidikan Karakter Dari Seorang Ayah


– Timothy Wibowo

“Satu Ayah lebih berharga dari 100 guru disekolah” – George Herbert

Ada sebuah kisah, tentang seorang ayah yang sudah terpisah lama dengan anaknya. Karena suatu hal, sang anak lari dari rumah dan sang ayah mencarinya selama berbulan-bulan tanpa hasil. Akhirnya munculah ide dari sang ayah, untuk memasang iklan di Koran, surat kabar yang paling besar dan terkenal se Ibukota.  Bunyi iklan tersebut: “Pato sayang, temui aku di depan kantor surat kabar ini, jam 12 siang hari sabtu ini. Semua sudah aku ampuni, aku mengasihimu nak”. Lalu hari yang di tunggu tiba, ternyata ada 800 orang bernama Pato berkumpul mencari pengampunan dari seorang ayah yang sangat mengasihi.
Data dari statistic mengatakan bahwa orang yang bertumbuh tanpa kasih sayang  seorang ayah akan tumbuh dengan kelainan perilaku, kecenderungan bunuh diri dan menjadi criminal yang kejam.  Sekitar 70% para penghuni penjara dengan hukuman seumur hidup adalah orang yang bertumbuh tanpa ayah (tanpa kedekatan emosional dari ayahnya).

Ada 2 hal penting rahasia sukses dari seorang ayah yang bisa diturunkan kepada anaknya. Apa itu?
1. Pelajaran Untuk Survival. Dari ayah kita akan belajar mengenai pelajaran yang sangat kompleks tentang bertahan hidup. Kenapa kompleks, sebab banyak hal yang perlu di “jaga” kestabilannya dalam hidup. Dalam keluarga, bagaimana ayah berperan dalam keluarga, memperlakukan ibu kita – yang kelak akan kita contoh dan duplikasi kepada pasangan kita. Membantu membesarkan hati anak jika ada masalah – kelak akan kita lakukan juga pada anak kita (ingat menjadi orangtua tidak ada sekolahnya, kita hanya mencontoh apa yang orang tua kita lakukan kepada kita). Kehidupan ekonomi keluarga, bagaimana ayah berperan dalam hal memenuhi kebutuhan keluarga. Dalam hal bertahan hidup kita akan belajar dari seorang ayah.
2. Masalah Karir. Yang satu ini adalah penting jika kita ingin sukses secara financial dan karir, maka perbaiki hubungan kita dengan ayah (bagi yang sudah besar) bagi kaum ayah muda, berelasilah dengan baik dengan anak anda. Kenapa? Dari seorang ayah, akan “diturunkan” kemampuan berkarir dan mendapatkan kemudahan dalam karir. Ingat yang point pertama, secara mendasar kita belajar survival dan dalam urusan bekerja seorang ayah adalah “mesin pencetak uang”. Relasi yang baik antara ayah dan anak akan sangat membantu sang anak untuk menuai sukses dikemudian hari saat dia memasuki dunia kerja.
Banyak klien saya yang hubungan dan relasinya hancur dengan sang ayah sejak lama, kemudian dengan segala kerendahan hatinya memulai hubungan yang baru dan saling memaafkan maka rejekinya juga berubah. Disamping itu juga Doa seorang ayah untuk anaknya bagaikan “turbo” untuk kesuksesan seorang anak. Bahkan doa yang benar-benar dilakukan seorang ayah, mampu mengubah karir seorang anak jauh melampaui karirnya sang ayah. Banyak kasus terjadi di dalam ruang terapi saya, pekerjaan yang buntu hanya perlu berbaikan pada sang ayah. Mudah bukan?

Figur seorang Ayah adalah figur yang sangat penting dijaman sekarang ini. Karena banyak sekali anak yang kehilangan figur seorang ayah dan mencari perhatian ayahnya dengan melakukan apa yang kita sebut “kenakalan”.
“Kulakukan ini semua untuk keluarga” adalah jawaban klasik yang muncul di mulut kebanyakan ayah, “saya bekerja untuk siapa kalau bukan untuk keluarga”, tetapi yang sering terjadi adalah keluarga menjadi korban. Maunya yang terbaik buat keluarga tetapi keluarga jadi korbannya kelak dan dimasa tuanya terjadi kebingungan, kenapa keluarga kok amburadul semua, “salah dimana?” Ya tentunya anda sekalian tahu dimana letak salahnya, bukan.
Seorang manusia, akan mempunyai kehidupan yang maksimal jika “dia diampuni dan mau mengampuni”. Ini adalah dasarnya. Bagi anda seorang ayah, maukah anda mengampuni anak dan minta maaf kepada anak untuk kebaikannya kelak dikehidupan masa depan? Dan anda sendiri sebagai ayah akan menjadi ayah yang sangat maksimal bagi keluarga dan lingkungan sekitar anda.
Para Ayah, anda sangat dirindukan dan dibutuhkan anak-anak anda untuk bekal kehidupan di masa depannya. Jangan habiskan seluruh energy dan waktu di tempat kerja, sehingga waktu dirumah hanyalah sisa energy dan duduk menonton tv atau membaca koran. Seorang anak perlu pelukan dan telinga dari ayahnya untuk mendengar, mengerti apa yang diceritakan sang anak.
Ajarkan kebenaran tentang moral dan sopan santun dan tentunya para ayah tidak akan menyesal kelak dalam kehidupan dewasa sang anak akan mengamalkan didikan dari sang ayah.
“Seorang ayah mampu membantu menggerakan perekonomian dunia dan mensejaterahkan kehidupan yang lebih layak untuk kehidupan di BUMI ini” – Timothy Wibowo.

Peduli Pendidikan Karakter It Never Ends


“Ketika kehilangan kekayaan, Anda tidak kehilangan apa-apa. Ketika kehilangan kesehatan, anda kehilangan sesuatu. Ketika kehilangan karakter, anda kehilangan segala-galanya” – Billy Graham
Saat ini paling tidak ada 2 hal yang saya ketahui tidak pernah lekang oleh jaman, apa itu?
  1. Perubahan
  2. Pendidikan Karakter
Jika bicara perubahan maka, sejatinya kita yang ada hari ini, yang sedang membaca tulisan ini sudah berbeda dari diri kita yang kemarin. Berbeda dimananya? Sel tubuh kita sudah berubah, informasi yang kita terima berubah, usia kita berubah dan masih banyak hal lainnya.
Sama halnya dalam pendidikan karakter, adalah proses yang tidak tak pernah berhenti. Pemerintah boleh berganti, raja boleh turun tahta, presiden boleh berhenti masa jabatannya, namun pendidika karakter tetap harus berjalan terus. Pendidikan karakter bukanlah proyek yang ada awal dan ada akhirnya. Pendidikan karakter diperlukan tiap individu untuk menjadi orang yang lebih baik lagi, warga Negara yang lebih bernilai kemanusiaan yang tinggi. Mantab!
Seperti pepatah dari negeri China “Apabila andamembuat rencana satu tahun, tanamlah padi. Apabila anda membuat rencana untuk sepuluh tahun tanamlah pohon. Apabila anda membuat rencana untuk seumur hidup didiklah orang-orang”. Pertanyaan nya adalah pendidikan apa yang patut diberikan?
Saat saya dahulu bersusah payah mengerjakan dan belajar perkalian matematika sampai 2-3 digit berserta akar pangkatnya, kini dalam keseharian saya sudah tidak terlalu relevan dengan aktivitas pekerjaan saya. jika toh saya harus berurusan dengan angka tersebut, saya tinggal buka laci dan ambil kalkulator. Menurut saya jika otak bisa digunakan untuk hal yang jauh lebih bermanfaat kenapa harus mengerjakan hal yang bisa dikerjakan barang simple ini (kalkulator). Sama halnya saat saya mengahfal selama lebih dari 12 tahun tentang sejarah, ternyata beberapa tahun yang lalu dipublikasikan bahwa sejarah di Indonesia banyak sekali kebohongan dan tidak sesuai dengan materi yang diajarkan di sekolah. Dan pendidikan yang saya pelajari itu sudah tidak begitu berguna lagi bagi saya dan sebagian banyak orang.
Saya bercerita pengalaman saya bukan berarti belajar di sekolah , ataupun pelajaran di sekolah tidak ada manfaatnya. Sangat ada manfaatnya bagi saya, apa? Saya belajar bersosialisasi, mempelajari pola pikir dan masih banyak hal lainnya.
Kembali ke topik yang terputus sesaat. Pendidikan apa yang patut diberikan? Mudah sekali, Pendidikan Karakter. Lalu pendidikan yang lain?
Pendidikan mata pelajaran lain jelas perlu, tapi berikan nuansa pendidikan karakter didalamnya. Sisipkan nilai kehidupan, nilai positif dari setiap materi dan berikan sentuhan manfaat dalam kehidupan. Misalnya mengajarkan fisika dengan bercerita tentang penemu teori atau rumus yang sedang diajarkan. Tonjolkan sikap positifnya dan ulang-ulang terus sehingga siswa tidak hanya hafal rumusnya saja tetapi nilai positif dari penemu teori tersebut.  Pertanyaannya apakah ini sudah kita kerjakan, wahai orangtua dan guru?
Ketika suatu Negara tidak menaruh perhatian terhadap pendidikan, maka Negara tersebut tidak membangaun sumber kekuatan , sumber kemajuan, sumber kesejahteraan, dan sumber martabat yang selalu bisa diperbarui, yaitu kualitas manusia dan kualitas masyarakatnya. Kualitas ini ditentukan oleh tingkat kecerdasan dan kekuatan karakter rakyatnya. Nah, disini pendidikan karakter sangat berperan penting untuk menghasilkan itu semua. Ingat, berbeda dengan sumber daya alam apabila dipakai dan dieksploitasi maka akan habis pada kurun waktu tertentu, berbeda dengan kebaikan karakter dan kecerdasan yang berkarakter, akan makin bertambah jika digunakan terus menerus.
Seperti ungkapan Ki Hajar Dewantara “Maksud pendidikan itu adalah sempurnanya hidup manusia sehingga bisa memenuhi segala keperluan hidup lahir dan batin. Yang kita dapat dari kodrat alam… pengetahuan, kepandaian janganlah dianggap maksud dan tujuan. Tetapi alat, perkakas, lain tidak. Bunganya kelak akan menjadi buah. Itulah yang harus kita utamakan. Buahnya pendidikan, yaitu matangnya jiwa, yang akan dapat mewujudkan hidup dan penghidupan yang tertib dan suci dan bermanfaat bagi orang lain”.
Nah, sejatinya pendidikan karakter tidak pernah berhenti dari kehidupan kita. seandainya kita pernah mendapatkan pendidikan karakter, atau dulunya bernama pendidikan Budi Pekerti, tidak selesai sampai kita selesai sekolah. Dalam sekolah kehidupan justru manusia yang berhasil adalah manusia yang memiliki nilai karakternya A dan setiap tahunnya (bahkan harian, atau triwulan, bahkan semester) masih ada ujian kenaikan kelasnya, sampai kapan? Sampai kita lulus dari bumi ini. Yah itulah sebabnya saya kemukakan bahwa pendidikan karakter tidak pernah berhenti. Nikmati dan hiduplah dengan karakter sukses.
Salam
Timothy Wibowo

Belajar Pendidikan Karakter dari Sepak bola


Pendidikan karakter itu bukanlah sesuatu yang muluk-muluk atau sulit. Pendidikan karakter sebenarnya sudah ada dimana-mana. Sudah ada dikeluarga, dilingkungan sosial, sekolah, tempat hiburan dan lainnya. Tapi kali ini kita akan belajar sesuatu inti yang penting tentang pendidikan karakter dari sepak bola.
Ya, kenapa sepak bola karena kondisi atau contoh ini akan sangat mudah di analogikan (disamakan) dengan kondisi dan bagaimana mendidik karakter di dalam sekolah dan rumah. Pada dasarnya pendidikan karakter adalah memberikan aturan main dalam kehidupan dan lingkungan sosial disertai dengan konsekuensi yang berlaku didalamnya. Lalu hubungan dengan sepak bola? Mudah, dalam sepak bola sudah berlaku aturan yang sangat baku dan jelas. Ada aturan main dan konsekuensi. Jika melanggar ada kartu kuning (peringatan), kartu merah (keluar dari permainan), free kick, penalty, corner kick, bahkan denda uang bagi pemain dan team. Bahkan yang lebih “sadis” lagi jika team tersebut harus turun kasta ke liga yang lebih rendah lagi.
Sebagai pecinta sepak bola, saya sangat senang dan berulang kali menggunakan contoh ini kepada guru dan orang tua yang ingin tahu tentang bagaimana mendidik karakter anak dengan menggunakan contoh ini. Seorang anak perlu mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja, mempelajari “aturan main” segala aspek yang ada di dunia ini dan “hidup” didunia ini. Nah, masalahnya anak pada saat lahir dia tidak memiliki “konsep sosial” didalam kepalanya, oleh karena itu anak perlu tahu bagaimana aturan – aturan yang ada didalam dunia ini. Inilah Pendidikan Karakter, mudah kan?
Supaya tidak kena kartu kuning, jangan melanggar. Jika melanggar lagi ya kartu merah. Sehingga banyak dari pemain sepak bola jika kesal terhadap team lawan selalu berusaha menjaga sikap dengan berusaha menghormati wasit dan tetap mengeluarkan uneg-uneg nya. Ya inilah dunia manusia, terkadang ada yang sesuai dan tidak tetapi diperlukan aturan untuk membuat semuanya teratur.
Dalam permainan sepak bola pemain inti dalam sebuah pertandingan adalah wasit. Banyangkan jika bermain tidak ada wasit maka kemungkinan besar bukan pertandingan sepak bola lagi yang kita lihat. Tetapi UFC (Ultimate Fighting Championship) di lapangan sepak bola, alias tarung bebas dilapangan sepak bola. Sama dalam dunia pendidikan di sekolah perlau ada figure yang berperan seperti wasit dalam pertandingan sepak bola yang menjadi “penjaga” aturan di sekolah. Dan seringkali hal inilah yang menjadi kelemahan, wasit di sekolahnya tidak berfungsi dengan baik. Sama halnya dirumah, orang tua kurang dapat menjadi wasit dengan baik. Sehingga pendidikan karakter kurang dapat berjalan dengan maksimal.
Perlu kita ketahui semua, pendidikan karakter bukan semata-mata memberikan pengetahuan semata tetapi menetapkan aturan dan konsekuensi dilingkungan sekolah dan dirumah. Dalam peraturan sekolah misal: anak tidak bawa buku pelajaran maka konsekuensinya mendapatkan tugas tambahan. Ini harus jelas dan konsisten, serta dikomunikasikan kepada semua pihak termasuk orang tua.
Jika kita melanggar aturan lalu lintas maka jelas kita kena tilang, dan kita bisa pilih mau slip merah atau biru. Merah bayar di tempat, jika biru kita bayar di tempat yang ditunjuk untuk mengurusi tilang (Bank BRI). Dan ini konsisten dan semua masyarakat Indonesia yang menggunakan kendaran bermotor sudah tahu. Inilah dasar dari pendidikan karakter. Ada aturan yang jelas dan konsekuensi.
Berikutnya, memang sebaiknya seorang yang bertanggung jawab dibidang pendidikan karakter adalah seorang yang memiliki minat, dalam dunia “kemanusian” tidak mesti psikolog. Kenapa sebab ini berkaitan dengan menata aturan dan konsekuensi bagi anak didik. Tentunya aturan ini harus ditata berdasarkan jenjang dan usia dan skala pelanggaran. Misal: hukuman anak yang mencuri atau merusak dengan sengaja property sekolah tentunya akan berbeda dengan anak yang lupa membawa alat tulis, atau tidak membawa catatan.
Nah, yang terpenting bagi kita semua bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang rumit. Ini sangat mudah dan ada banyak sekali contohnya disekitar kita, tinggal kita mau apa tidak. Perlu upaya untuk menerapkan ini, kita perlu mengetahui dan belajar tentang seluk beluk manusia dan bagaimana mengatasinya. Sebab manusia saat dilahirkan tidak disertai manual book-nya, lain seperti Black Berry yang kita beli dan sudah disertakan manual book-nya dan ada petunjuk bagaimana menggunakannya.
Salam
Timothy Wibowo

Mewujudkan Pendidikan karakter yang Berkualitas


Dalam tataran teori, pendidikan karakter sangat menjanjikan bagi menjawab persoalan pendidikan di Indonesia. Namun dalam tataran praktik, seringkali terjadi bias dalam penerapannya. Tetapi sebagai sebuah upaya, pendidikan karakter haruslah sebuah program yang terukur pencapaiannya. Bicara mengenai pengukuran artinya harus ada alat ukurnya, kalo alat ukur pendidikan matematika jelas, kasih soal ujian jika nilainya diatas strandard kelulusan artinya dia bisa. Nah, bagaimana dengan pendidikan karakter?
Jika diberi soal mengenai pendidikan karakter maka soal tersebut tidak benar-benar mengukur keadaan sebenarnya. Misalnya, jika anda bertemu orang yang tersesat ditengah jalan dan tidak memiliki uang untuk melanjutkan perjalananya apa yang anda lakukan? Untuk hasil nilai ujian yang baik maka jawabannya adalah menolong orang tersebut, entah memberikan uang ataupun mengantarnya ke tujuannya. Pertanyaan saya, apabila hal ini benar-benar terjadi apakah akan terjadi seperti teorinya? Seperti jawaban ujian? Lalu apa alat ukur pendidikan karakter? Observasi atau pengamatan yang disertai dengan indikator perilaku yang dikehendaki. Misalnya, mengamati seorang siswa di kelas selama pelajaran tertentu, tentunya siswa tersebut tidak tahu saat dia sedang di observasi. Nah, kita dapat menentukan indikator jika dia memiliki perilaku yang baik saat guru menjelaskan, anggaplah mendengarkan dengan seksama, tidak ribut dan adanya catatan yang lengkap. Mudah bukan? Dan ini harus dibandingkan dengan beberapa situasi, bukan hanya didalam kelas saja. Ada banyak cara untuk mengukur hal ini, gunakan kreativitas anda serta kerendahan hati untuk belajar lebih maksimal agar pengukuran ini lebih sempurna.
Membentuk siswa yang berkarakter bukan suatu upaya mudah dan cepat. Hal tersebut memerlukan upaya terus menerus dan refleksi mendalam untuk membuat rentetan Moral Choice (keputusan moral) yang harus ditindaklanjuti dengan aksi nyata, sehingga menjadi hal yang praktis dan reflektif. Diperlukan sejumlah waktu untuk membuat semua itu menjadi custom (kebiasaan) dan membentuk watak atau tabiat seseorang. Menurut Helen Keller (manusia buta-tuli pertama yang lulus cum laude dari Radcliffe College di tahun 1904) “Character cannot be develop in ease and quite. Only through experience of trial and suffering can the soul be strengthened, vision cleared, ambition inspired, and success achieved”.
Selain itu pencanangan pendidikan karakter tentunya dimaksudkan untuk menjadi salah satu jawaban terhadap beragam persoalan bangsa yang saat ini banyak dilihat, didengar dan dirasakan, yang mana banyak persoalan muncul yang di indentifikasi bersumber dari gagalnya pendidikan dalam menyuntikkan nilai-nilai moral terhadap peserta didiknya. Hal ini tentunya sangat tepat, karena tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan insan yang cerdas, namun juga menciptakan insan yang berkarakter kuat. Seperti yang dikatakan Dr. Martin Luther King, yakni “intelligence plus character that is the goal of true education” (kecerdasan yang berkarakter adalah tujuan akhir pendidikan yang sebenarnya).
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk merealisasikan pendidikan karakter di sekolah. Konsep karakter tidak cukup dijadikan sebagai suatu poin dalam silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran di sekolah, namun harus lebih dari itu, dijalankan dan dipraktekan. Mulailah dengan belajar taat dengan peraturan sekolah, dan tegakkan itu secara disiplin. Sekolah harus menjadikan pendidikan karakter sebagai sebuah tatanan nilai yang berkembang dengan baik di sekolah yang diwujudkan dalam contoh dan seruan nyata yang dipertontonkan oleh tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah dalam keseharian kegiatan di sekolah.
Di sisi lain, pendidikan karakter merupakan upaya yang harus melibatkan semua pemangku kepentingan dalam pendidikan, baik pihak keluarga, sekolah dan lingkungan sekolah dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu, langkah awal yang perlu dilakukan adalah membangun kembali kemitraan dan jejaring pendidikan yang kelihatannya mulai terputus diantara ketiga stakeholders terdekat dalam lingkungan sekolah yaitu guru, keluarga dan masyarakat. Pembentukan dan pendidikan karakter tidak akan berhasil selama antara stakeholder lingkungan pendidikan tidak ada kesinambungan dan keharmonisan. Dengan demikian, rumah tangga dan keluarga sebagai lingkungan pembentukan dan pendidikan karakter pertama dan utama harus lebih diberdayakan yang kemudian didukung oleh lingkungan dan kondisi pembelajaran di sekolah yang memperkuat siklus pembentukan tersebut. Di samping itu tidak kalah pentingnya pendidikan di masyarakat. Lingkungan masyarakat juga sangat mempengaruhi terhadap karakter dan watak seseorang. Lingkungan masyarakat luas sangat mempengaruhi terhadap keberhasilan penanaman nilai-nilai etika, estetika untuk pembentukan karakter. Menurut Qurais Shihab (1996; 321), situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, mempengaruhi sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Jika sistem nilai dan pandangan mereka terbatas pada kini dan disini, maka upaya dan ambisinya terbatas pada hal yang sama.
Ingin mewujudkan pendidikan karakter yang berkualitas? Maka kuncinya sudah dipaparkan diatas, ada alat ukur yang benar sehingga ada evaluasi dan tahu apa yang harus diperbaiki, adanya tiga komponen penting (guru, keluarga dan masyarakat) dalam upaya merelaisasikan pendidikan karakter berlangsung secara nyata bukan hanya wacana saja tanpa aksi. Ingat, Pendidikan karakter melalui sekolah, tidak semata-mata pembelajaran pengetahuan semata, tetapi lebih dari itu, yaitu penanaman moral, nilai-nilai etika, estetika, budi pekerti yang luhur. Dan yang terpenting adalah praktekan setelah informasi tersebut di berikan dan lakukan dengan disiplin oleh setiap elemen sekolah.
Salam
Timothy Wibowo

Cara kirim naskah ke Penerbit DIVA Press


Wah, ini bakal jadi berita yang menyenangkan buat para penulis yang mencoba untuk menerbitkan bukunya. Jika penerbit yang lain memberi waktu 2 atau 3 bulan lebih untuk memberitahukan layak terbit atau tidak, Penerbit DIVA Press ternyata hanya memberikan waktu tunggu maksimal 1 bulan, hehe....

Ini dia syarat-syaratnya:

Naskah Fiksi (Tema bebas)
Menyertakan sinopsis cerita dan biodata lengkap (termasuk nomor yang dapat dihubungi)
Tidak ada batasan ketebalan naskah, kertas A4, spasi 2, font Times New Roman ukuran 12, batas margin kanan 4 cm, kiri 3 cm, atas 4 cm, dan bawah 3 cm.


Naskah Nonfiksi (tema bebas)
Menyertakan ringkasan, daftar isi, folder gambar (jika di dalam naskah terdapat gambar), serta biodata lengkap.
Tidak ada batasan ketebalan naskah, kertas A4, spasi 2, font Times New Roman ukuran 12, batas margin kanan 4 cm, kiri 3 cm, atas 4 cm, dan bawah 3 cm.


Naskah dapat dikirimkan melalui e-mail ke alamat: redaksi_divapress@yahoo.com. Atau, dapat dikirimkan maupun diantar langsung ke kantor redaksi kami dalam bentuk print-out beserta soft file. Setiap naskah dalam bentuk print out yang dikirimkan ke redaksi DIVA Press dan ditolak, tidak akan dikembalikan kepada penulis. Penulis dipersilakan untuk mengambil naskah tersebut dengan datang langsung ke kantor redaksi maksimal 1 minggu setelah konfirmasi penolakan dari pihak redaksi. Naskah yang sudah dinyatakan ditolak tidak akan diterbitkan oleh DIVA Press dan akan dibuang agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.   

Konfirmasi penerimaan naskah akah diberikan maksimal 1 bulan setelah naskah sampai ke meja redaksi.

Naskah yang telah diterima hanya akan diedit oleh staf redaksi DIVA Press yang berwenang.

Cara kirim naskah ke Penerbit Gagas Media


Syarat Pengajuan Naskah

Jangan ragu untuk mengirimkan naskahmu ke GagasMedia. Siapa pun yang mempunyai minat menulis bakal kita dukung deh! Nah, sebelum kamu mengirimkan naskahmu ke GagasMedia, cari tahu dulu persyaratannya.

Berikut adalah dua kategori naskah yang bisa kamu kirimkan.

1. Fiksi

Syarat umum:

- Panjang naskah 70-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12
- Kirimkan dalam bentuk print out (yang sudah dijilid rapi, tentunya), sertakan sinopsis lengkap novelmu, plus form pengiriman naskah ke:

REDAKSI GAGASMEDIA
Jl. Haji Montong No. 57, Ciganjur
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630

- Setiap naskah akan diproses langsung oleh redaksi. Waktu yang diperlukan sekitar 4 bulan, mengingat banyaknya naskah masuk setiap harinya. Harap maklum ya.

Adapun jenis fiksi yang dicari adalah:

- DOMESTIC DRAMA
- MAINSTREAM ROMANCE
- CLASSIC ROMANCE
- TEEN ROMANCE
- CLIQUE*LIT

2. Non Fiksi

Syarat umum:

- Panjang naskah 70-150 halaman A4, spasi 1, Times News Roman 12. Kirimkan dalam bentuk print out (dijilid rapi) ke:

REDAKSI GAGASMEDIA
Jl. Haji Montong No. 57, Ciganjur
Jagakarsa, Jakarta Selatan 12630

- Atau, kirimkan proposal naskah via e-mail ke redaksi@gagasmedia.net. Bila naskahmu menarik, redaksi akan menghubungimu untuk pembahasan lebih lanjut.
- Setiap naskah akan diproses langsung oleh redaksi. Waktu yang diperlukan sekitar 4 bulan, mengingat banyaknya naskah masuk setiap harinya. Harap maklum ya. 

Kategori nonfiksi yang dicari:
- Pengembangan diri (self improvement)
- How to
- Memoar-inspiratif
- Lifestyle
- Traveling 
- Pengetahuan populer 


Nah, jika kamu sudah menentukan kategori naskah yang akan dikirimkan, jangan lupa untuk menyertakan pula form pengiriman naskah yang bisa kamu download di sini!

Cara kirim naskah ke Penerbit Bentang Pustaka Q & A tentang Redaksi dan Naskah


1. Bagaimana cara mengirimkan naskah ke Bentang Pustaka?



Pengiriman naskah bisa dalam bentuk hard copy (via pos) atau soft copy (via email).Naskah dikirim via pos ke alamat :
PT. BENTANG PUSTAKA
JL. Pandega Padma No.19
Yogyakarta 55284
Telp. 0274-517373
Atau via E-mail (dalam bentuk lampiran) ke alamat : bentangpustaka@yahoo.com


2. Apa kriteria naskah yang diterima Bentang Pustaka?


a. fiksi/ non-fiksi dengan tema menarik, up to date, dan unik
b. menceritakan kehidupan masa kini
c. tidak mengandung unsur pornografi
d. tidak berpotensi menimbulkan/memicu konflik SARA


3. Bagaimana format pengiriman naskah ke Bentang Pustaka?

Naskah diketik di kertas kuarto. Panjang naskah minimal 200 halaman spasi dua. Naskah dikirimkan beserta biografi lengkap penulis, sinopsis, dan nilai lebih karya.


4. Berapa lama penilaian karya untuk memberikan pemberian keputusan?

Idealnya keputusan diberikan maksimal 1 bulan. Tetapi, waktu tersebut tidak dapat menjamin karena begitu banyaknya naskah yang masuk ke redaksi Bentang Pustaka baik melalui e-mail maupun pos.


5. Bagaimana cara mengetahui apakah naskah diterima atau tidak?

Penulis dapat menghubungi pihak Bentang Pustata baik melalui e-mail atau telepon dengan menyebutkan judul naskah dan kapan naskah dikirim.


6. Bagaimana nasib naskah yang tidak diterima oleh Bentang Pustaka?

Apabila naskah berbentuk hardcopy, naskah akan dikembalikan ke alamat penulis beserta surat resmi dari Bentang Pustaka. Apabila naskah dikirim melalui e-mail, keputusan akan dikirim melalui e-mail.
Bentang Pustaka

Pages